Otakku Membusuk
Aku hari ini merasa sedih. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Mood swings. Aku bingung ada apa dengan diriku. Bukankah aku sudah merasa lebih baik? Aku tidak perlu minum obat lagi, kan? Aku tidak perlu ke unit psikiatri lagi, kan? Kenapa kadang pikiranku seakan dikendalikan. Aku tidak tahu kenapa tapi seperti ada yang mengendalikan. Aku tidak tahu bagaimana agar otakku diam. Dia sangat berisik, menggangguku untuk konsentrasi dalam berpikir.
Aku ingin sekali dia diam. Aku ingin mendengar suara hatiku lebih jelas. Tapi, masalahnya dia hampir tak pernah diam! Sudah bertahun-tahun! Aku bahkan tidak tahu bagaimana dia bisa seperti ini selama bertahun-tahun. Setiap musik yang pernah ku dengar ketika kecil, dan musik yang ku dengar tanpa sengaja ketika besar, semuanya menempel di kepalaku. Jika aku lupa dengan musik tertentu, dia masih memiliki segudang album untuk diputar dan dinyanyikan. Apakah ini karena dosaku? Mendengarkan musik ketika aku tidak dapat menahan keinginanku sendiri? Hawa nafsu? Aku pusing. Kepalaku berisik. Sekarang pun saat aku mengetik, kepalaku tetap berisik.
Musik yang ku dengar selalu berputar. Bahkan musik ini yang mengendalikan emosiku. Ketika aku merasa baik-baik saja, tiba-tiba musik sedih berputar di kepalaku. Aku tidak bisa menghentikannya. Aku pernah berusaha tapi ujungnya gagal, lagi dan lagi. Hingga di titik aku pun ikut sedih. Aku harap emosiku tidak dikendalikan oleh musik. Musik sampah! Tidak ada gunanya dan hanya mengganggu pikiranku! Menggangu fokus! Aku bahkan hampir tidak bisa berbicara dengan diriku sendiri. Padahal, dia ingin menyampaikan pelajaran berharga untuk hidupku. Aku sering berdiskusi dengannya. Menghayati kehidupan dan makna tersembunyi darinya.
Pergilah setan! Jangan tinggal di kepalaku! Aku ingin pikiranku tenang. Aku ingin menghayati makna dunia. Aku ingin memahami ayat kauniyah yang Maha Kuasa, Maha Esa. Pergilah menjauh, parasit! Kau bahkan lebih buruk daripada kanker. Tinggalkan aku sendiri bersama diriku. Kau adalah narkoba yang membuat candu. Kau memakan otakku, menghancurkan ku dari dalam. Otakku membusuk, tidak dapat berpikir jernih. Setiap kali suara itu datang, kau membungkamnya. Dia membawa kebenaran dan berita gembira, kau mengusirnya.
Apakah aku akan selamanya seperti ini? Hidup dengan ditumpangi parasit? Apakah ini adalah tumor otak yang sesungguhnya? Al-Qur'an bahkan tidak betah di hatiku. Aku merasa sendiri ... Kesepian ... Aku ingin pulang ... Kenapa? ... Ku mohon diamlah! Kau menggangu! Musik ini masih terus berputar dan menari di kepalaku. Diamlah ... Aku ingin pulang ... Kenapa aku ingin terus pulang? ... Kemana? ... Aku bahkan tidak tahu ...
Aku merasa kesepian. Entahlah, aku tidak tahu kenapa. Aku ingin pulang ke suatu tempat yang bahkan aku sendiri tidak tahu kemana. Hatiku selalu berkata 'aku ingin pulang', bagaimana ceritanya aku mencari jalan pulang kalau aku sendiri sedang berada di rumah. Apa yang dimaksud dari 'aku ingin pulang'? Jangan membuatku bingung. Kemana kau ingin pulang wahai hati? Kemana? Allah? Mungkin. Tapi, apakah kau merasa pantas bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini? Penuh dosa dan maksiat, berlumur hitamnya perbuatanmu. Hatimu bahkan tertutup. Kau yakin? Setidaknya kita masih diberi kesempatan hidup. Dan aku juga bangga padamu karena kuat dan berhasil melewati semua ini. Kuat menghadapi keinginan bunuh diri. Ya, aku bersyukur aku adalah hamba Allah. Allah menyelamatkan dan membimbingku untuk kuat menghadapi pemikiran seperti itu. Aku juga tidak menyangka aku masih hidup hingga saat ini. Aku kira aku benar-benar akan mati. Heh, kadang kau membuatku takut dan khawatir. Apakah aku waras atau gila. Berhenti melakukan hal itu lagi. Kau telah membuat ayahku membentakku karena ucapanmu menakuti mereka.
Mungkin aku akan hidup selamanya didampingi parasit musik dan bipolar. Mungkin aku tiba-tiba depresi saat aku sendiri tidak tahu kenapa hal itu terjadi. Saat aku masih merasa nyaman hidup di dalam tubuh ini. Setidaknya selagi masih hidup, aku akan berusaha menebus dosa-dosa sebelum terlambat. Yaa, meski aku sering jatuh ke lubang yang sama. Maksiat, tobat lagi, maksiat tobat lagi. Seperti itu terus. Asalkan aku benar-benar sungguh-sungguh, aku harap tobatku diterima, semuanya. Aku harap. Tapi, apakah mungkin? Mungkin. Jangan menyerah dalam bertobat selagi masih hidup. Berusahalah. Harapannya, kau benar-benar diampuni.
Katakan sesuatu yang membawa kebaikan!
BalasHapus